Di tengah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi menunjukkan respons cepat terhadap keluhan warga mengenai terhentinya pasokan air bersih di Kampung Gudang, RT 04/RW 06, Desa Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak. Keberadaan air bersih merupakan kebutuhan pokok yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari, dan ketika pasokan ini terputus, dampaknya bisa sangat signifikan bagi masyarakat.
Penanganan Keluhan Masyarakat
Program penyediaan sarana air bersih yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025 sebelumnya telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat setempat. Namun, dalam hampir dua minggu terakhir, warga melaporkan terhentinya aliran air ke rumah mereka, yang menimbulkan berbagai masalah.
Pengecekan Langsung oleh Disperkim
Menanggapi situasi ini, Kepala Bidang Sanitasi Disperkim Kabupaten Sukabumi, Agus Hilmansyah, melakukan kunjungan langsung ke lokasi pada Kamis (27/8/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi sarana air bersih dan mencari tahu penyebab terhentinya aliran air.
Agus berkoordinasi dengan ketua RT dan warga untuk mengumpulkan informasi terkait kondisi infrastruktur air bersih di daerah tersebut. Melalui dialog ini, ia berusaha memahami lebih dalam tentang situasi yang dihadapi oleh masyarakat.
Penyebab Terhentinya Aliran Air Bersih
Setelah melakukan pengecekan, Agus mengungkapkan bahwa masalah terhentinya aliran air bukan disebabkan oleh kerusakan pada sarana atau instalasi, melainkan disebabkan oleh berkurangnya debit sumber air yang diakibatkan oleh musim kemarau yang berkepanjangan.
“Dari pemeriksaan yang kami lakukan, semua komponen, termasuk mesin pompa dan instalasi, berfungsi dengan baik. Masalah ini lebih kepada faktor alam, terutama musim kemarau yang mengakibatkan pasokan dari sumur berkurang,” jelas Agus.
Dampak Musim Kemarau yang Berkepanjangan
Agus menjelaskan bahwa situasi serupa tidak hanya terjadi di Kampung Gudang, tetapi juga di beberapa wilayah lain yang mendapatkan program penyediaan sarana air bersih. Musim kemarau yang panjang ini mengakibatkan debit sumber air menurun, yang pada gilirannya berdampak pada ketersediaan air bersih untuk masyarakat.
- Kurangnya pasokan air bersih di beberapa wilayah
- Debet sumber air yang menurun akibat musim kemarau
- Pengaruh alam menjadi penyebab utama terhentinya aliran air
- Kondisi serupa dialami di desa lain di sekitar
- Pemeriksaan teknis menunjukkan tidak ada kerusakan sarana
Pentingnya Pengelolaan Sarana Air Bersih
Meskipun masalah utama adalah faktor alam, Agus menekankan pentingnya pengelolaan sarana air bersih yang baik di tingkat masyarakat. Dalam kunjungannya, ia berbincang dengan ketua RT mengenai pengelolaan fasilitas air bersih tersebut.
Dari hasil diskusi, terungkap bahwa Pemerintah Desa Ciheulang Tonggoh belum membentuk Surat Keputusan (SK) untuk kepengurusan yang khusus menangani pengelolaan sarana air bersih. Pengelolaan yang efektif diharapkan dapat dilakukan oleh masyarakat penerima manfaat melalui kepengurusan yang resmi.
Transisi Pengelolaan dari Penyedia Jasa ke Masyarakat
Agus juga menambahkan bahwa masa pemeliharaan sarana air bersih oleh penyedia jasa kepada Disperkim Kabupaten Sukabumi telah berakhir. Untuk itu, pengelolaan dan perawatan sarana air bersih selanjutnya diserahkan kepada masyarakat atau kepengurusan warga setempat.
“Masa pemeliharaan sarana air bersih di Desa Ciheulang Tonggoh telah berakhir. Untuk pengelolaan selanjutnya, termasuk perawatan, kami serahkan kepada penerima manfaat atau kepengurusan masyarakat,” ungkap Agus.
Mendorong Kemandirian Masyarakat dalam Pengelolaan Air Bersih
Dengan adanya pengecekan langsung yang dilakukan oleh Disperkim Kabupaten Sukabumi, pihaknya memastikan bahwa terhentinya aliran air di Kampung Gudang disebabkan oleh kondisi sumber air yang terdampak oleh musim kemarau, dan bukan karena kerusakan sarana. Hal ini penting untuk dipahami agar masyarakat tidak panik dan dapat bersiap menghadapi situasi serupa di masa depan.
Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk mendorong terbentuknya kepengurusan di tingkat masyarakat. Ini penting agar sarana air bersih yang telah dibangun dapat dikelola dan dirawat secara berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan oleh warga. Dengan demikian, masyarakat di Kampung Gudang dan sekitarnya tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan akses terhadap air bersih.
Keberhasilan dalam pengelolaan sarana air bersih ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap fasilitas yang telah dibangun. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan masalah air bersih di daerah ini dapat teratasi dengan lebih baik.
